Senin, 20 Oktober 2014

Kebudayaan Sumatera Barat




 


    Awal mula Sumatera Barat adalah pada abad ke-16 hingga ke-20 Masehi, pantai barat Sumatra pernah menjadi titik pusaran peradaban dan jalur perdagangan internasional. Masyarakat di pantai yang berhadapan dengan Samudra Hindia itu berhubungan dengan beberapa Negara, seperti Belanda, Portugis, Inggris, China dan India. Kota Barus, Singkil, dan Kota Natal merupakan titik-titk pusaran pradaban, termasuk pusat penyebaran agama Hindu, Budha,Islam pada masa itu. Posisi di muara sungai membuat kota –kota ini menjadi pintu masuk yang strategis bagi dunia
Sekarang Sumatera Barat merupakan salah satu tujuan utama pariwisata di Indonesia. Fasilitas wisatanya yang cukup baik, serta sering diadakannya berbagai festival dan even internasional, menjadi pendorong datangnya wisatawan ke provinsi ini. Beberapa kegiatan internasional yang diselenggarakan untuk menunjang pariwisata Sumatera Barat adalah lomba balap sepeda Tour de Singkarak, even paralayang Event Fly for Fun in Lake Maninjau, serta kejuaraan selancar Mentawai International Pro Surf Competition. Sumatera Barat memiliki hampir semua jenis objek wisata alam seperti laut, pantai, danau, gunung, dan ngarai. Selain itu pariwisata Sumatera Barat juga banyak menjual budayanya yang khas, seperti Festival Tabuik, Festival Rendang, permainan kim, dan seni bertenun. Disamping wisata alam dan budaya, Sumatera Barat juga terkenal dengan wisata kulinernya.
     Kalau soal musik, nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatera Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarat. Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri dari instrumen alat musik tradisional saluang, bansi, talempong, rabab, pupuik, serunai, dan gandang tabuik.
     Sedangkan untuk tarian, secara garis besar seni tari dari Sumatera Barat adalah dari adat budaya etnis Minangkabau dan etnis Mentawai. Kekhasan seni tari Minangkabau umumnya dipengaruhi oleh agama Islam, keunikan adat matrilineal dan kebiasan merantau masyarakatnya juga memberi pengaruh besar dalam jiwa sebuah tari tradisi yang bersifat klasik, di antaranya Tari Pasambahan, Tari Piring, Tari Payung, dan Tari Indang. Sementara itu terdapat pula suatu pertunjukan khas etnis Minangkabau lainnya berupa perpaduan unik antara seni bela diri yang disebut silek dengan tarian, nyanyian dan seni peran (acting) yang dikenal dengan nama Randai.
      Rumah adat Sumatera Barat khususnya dari etnis Minangkabau disebut Rumah Gadang. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun. Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bahagian muka dan belakang, umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti berbentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau, masyarakat setempat menyebutnya Gonjong dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng. Rumah Bagonjong  ini menurut masyarakat setempat diilhami dari tambo, yang mengisahkan kedatangan nenek moyang mereka dengan kapal dari laut.
       Indonesia dengan letak geografis sebagai Negara kepulauan memiliki aneka ragam adat dan budaya daerah yang tersebar merata di seluruh tanah air. Kita harus melestarikan setiap budaya tersebut. Ada beberapa cara salah satunya adalah Mengenali dan bangga akan budaya daerah.

source: Adhiwira Cahyadi blog

Pendidikan (Opini)




    Pendidikan adalah sebuah tahapan terukur untuk menggapai level kehidupan sosial yang lebih baik. Tanpa pendidikan sulit bagi siapapun untuk dapat memperbaiki level kehidupan yang mereka tempati karena minimnya bekal atau landasan akademis dimana hal tersebut sangat dibutuhkan oleh manusia dalam proses menuju tempat yang lebih baik.

    Jika kita melihat ke sekeliling kita, realitanya memang tidak semua orang yang memiliki background pendidikan baik bisa meraih kesuksesan. Dan disisi lain, banyak juga sekumpulan orang tanpa riwayat pendidikan yang baik justru bisa menikmati level kehidupan yang lebih mapan, namun secara teori orang yang dibekali dengan ilmu jauh lebih berpeluang untuk menjadi orang berhasil.

    Segala sesuatu membutuhkan proses, dan selama proses tersebut sedang berjalan manusia diharuskan untuk memperkaya diri dengan bekal-bekal atau landasan yang dapat mengarahkan mereka pada keberhasilan, dan disinilah fungsi pendidikan akan memberikan andil untuk membantu manusia menuju jenjang keberhasilan yang diimpikannya.

    Teori adalah sebuah tolak ukur untuk menganalisa sejauh mana seseorang dapat melangkah. Takdir Tuhan memang senantiasa menyertai kehidupan manusia, namun terlepas dari ketentuan takdir, manusis dituntut untuk memperkaya ilmu guna memudahkan perjalanannya untuk menuju gerbang kesuksesan.
     Dengan mengikuti proses pendidikan, maka manusia akan diberikan bimibingan, dorongan, teori, dan sejumlah hal prioritas yang mereka perlukan. 


Reportase Sederhana di Rumah Baca

    Rumah Baca kembali mengadakan acara. Kali ini dalam bentuk workshop dengan tema  Jurnalisme Warga (Citizen  Journalism). Untuk maksud ini, Rumah Baca mendatangkan wartawan harian Jurnal Nasional, Wahyu Utomo sebagai narasumber. Acara berlangsung di Rumah Baca, yang adalah kediaman Hartono Rakiman di Kampung Parung, Bojongkulur, Gunung Putri Bogor pada tanggal 18 Desember 2011.
    Istilah  jurnalisme warga sudah beberapa kali didengar. Beberapa komunitas nampaknya sedang mengembangkan tema yang sama. Tapi apa sebenarnya pengertian jurnalisme warga itu?  Apa bentuknya dan bagaimana mengembangkannya? Pertanyaan itulah, yang mendorong keinginan untuk berdiskusi dengan Komunitas Rumah Baca.
    Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, termasuk hitungan tersesat, sampailah di Rumah Baca. Saat itu, ruang Rumah Baca sedang penuh dengan anak–anak. Mereka adalah anak–anak dari Rumah Baca Kids. Hartono dan Indriyani (istrinya), mengembangkan wadah belajar bagi anak–anak sekitar rumah. Tampak sekitar tiga puluhan anak dari beragam usia, lagi menyimak pelajaran yang disampaikan oleh Indriyani.

    Rumah Baca Kids berlangsung setiap hari minggu, dari pukul tujuh sampai sembilan pagi. Menurut Indri, ada sekitar tujuh puluhan anak yang terdaftar. Namun yang hadir setiap minggu, rata–rata sekitar tiga puluhan anak. “Dulu aku mengumpulkan anak–anak belajar di masjid. Namun kemudian pindah ke rumah, agar membuka kesempatan lebih banyak anak lagi yang datang,” cerita Hartono.
    Workshop Jurnalisme Warga yang bakal kita ikuti baru akan dilaksanakan setelah anak–anak selesai belajar. Hartono nampaknya senang dengan kehadiran peserta workshop, ketika proses belajar Rumah Baca Kids  masih berlangsung.
    Anak–anak terlihat senang, bahkan ketika berinteraksi dengan mereka dan saat ditanyai soal mimpi, ada yang menyebut ingin ke Belanda. Mereka tidak malu–malu. Anak–anak ini komunikastif.  Interaksi dengan mereka tidak mengalami hambatan. Bahkan kita bernyanyi lagu tentang impian secara bersama. Di akhir acara belajar, Rumah Baca Kids menyediakan sarapan pagi sebelum mereka kembali kerumah orangtuanya.


    Lalu bagaimana dengan diskusi mengenai Jurnalisme Warga? Workshop baru dimulai sekitar pukul sepuluh. Hadir kira–kira lima belas peserta, yang berasal dari mahasiswa, pelajar, aktivis, pegawai swasta, pengajar, penerbit, profesi lainnya. Sesi perkenalanpun dimulai, menurut Hartono, ini pertemuan kali keempat dari topik besarnya “jurnalisme”. Hartono kemudian memberikan kesempatan kepada Wahyu Utomo untuk memaparkan lebih dalam tentang jurnalisme warga.
    Sebelum masuk kedalam pengertian jurnalisme warga, Wahyu Utomo menjelaskan mengenai reportase. Menurut Wahyu Utomo, reportase adalah sebuah kegiatan pengumpulan data/fakta yang berasal dari suatu peristiwa. Reportase tidak selalu berkaitan dengan media, kegunaannya juga untuk penulisan karya ilmiah dan penelitian. Reportase mengandung unsur peristiwa yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan penggunaan teknik penulisan 5W + 1H.  Ada tiga teknik reportase, yaitu riset, observasi dan yang terakhir wawancara. Masing –masing teknik memiliki tahapan. Di antaranya dengan mempersiapkan kerangka acuan dan daftar pertanyaan.
    Perbedaan antara jurnalisme warga dengan jurnalisme industri terletak pada scope. Jurnalisme warga dibatasi tujuannya untuk suatu komunitas. Sehingga ada perbedaan dari gaya bahasa dan pemberitaan. Newsletter internal, majalah internal, website internal termasuk juga Kompasiana (media interaksi yang digagas Kompas) adalah bentuk – bentuk jurnalisme warga. Kaitan reportase dengan jurnalisme warga, adalah kegiatan jurnalisme warga mengandung juga unsur reportase. Sehingga jurnalisme warga dapat menyajikan tulisan – tulisan yang mengandung kebenaran.


    Yang menarik, Wahyu Utomo mendorong kita untuk membuat reportase. Tips yang ia berikan adalah mengamati orang di area publik. Lakukan pengamatan selama tiga puluh menit. Fokus pada salah satu objek, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Berikan tulisan itu kepada teman, dan mintai kritikannya. Ingat, jangan seperti menulis diary ya…Imbuh Wahyu lagi.
    Setelah diskusi selesai, Hartono membagikan beberapa buku dari penerbit Serambi. Ia berharap akan ada diskusi lanjutan melalui blog dan email mengenai tema yang baru saja kita bahas. Ia menutup acara diskusi Jurnalisme warga dengan mempersilahkan kita semua menyantap barbeque di halaman belakang rumahnya.
    Inisiatif membangun diskusi di kalangan masyarakat secara terus menerus akan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap masalah sosial, ekonomi maupun politik. Rumah Baca hanya menggunakan media sosial sebagai pintu masuk untuk mempertemukan orang–orang dari beragam profesi. Secara pribadi, tapi mungkin masih dangkal menilainya, Rumah Baca secara tidak sengaja mendorong pluralisme warga. Wadah tersebut mampu mendiskusi tema yang beragam dan mefasilitasi pendapat yang berbeda dari tulisan – tulisan yang dikirim kepada Rumah Baca. Sekali lagi terima kasih Rumah Baca.

source: Tunjuk Satu Bintangku (wordpress)


Minggu, 19 Oktober 2014

Kerupuk Berbahaya (Reportase)


    Kerupuk merupakan makanan yang disukai banyak orang. Rasanya yang gurih dan kriuk saat dimakan. Dari berbagai macam jenis kerupuk, yang paling sering dijumpai yaitu kerupuk kaleng/aci/tapioca

    Tahukah bahwa ada zat-zat berbahaya yang terkandung didalamnya?? Sejatinya kerupuk itu miskin gizi, kerupuk pun hanya sekedar untuk cemilan atau selingan. Meski demikian banyak orang Indonesia yang menggemarinya. Namun, kita wajib terhadap makanan yang satu ini.

    Fakta dari hasil penelusuran Tim Investigasi Trans menemukan bahwa ada oknum pembuat kerupuk aci dan kerupuk lipat yang mengandung boraks, bleng dan tawas.

    Bocil, salah satu oknum pembuat kerupuk tersebut mengatakan bahwa kerupuknya akan kurang laku jika tidak memakai zat-zat berbahaya tersebut, karena zat itu membuat tampilan kerupuk akan menarik dan tahan lama. Ironis memang. Dirinya juga mengungkapkan bahwa bleng mudah didapat dipasar-pasar. Bleng merupakan boraks yang ditambah garam.

    Boraks, zat yang biasanya digunakan untuk membasmi kecoa dan Tawas, yang mengandung alumunium sulfat, biasa digunakan sebagai penjernih air. Perlu diketahui bahwa yang paling berbahaya dalam tawas yaitu kandungan alumuniumnya karena bila terlalu sering dikonsumsi maka akan semakin mengendap didalam tubuh dan dapat menyebabkan gangguan syaraf seperti hingga alzeimer dalam jangka panjangnya. Boraks tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan dalam jumlah berapapun karena merupakan zat yang berbahaya.

    Namun, hal tersebut tidak pernah dipikirkan oknum pembuat kerupuk seperti bocil, mereka hanya memikirkan keuntungan yang didapat dari penjualan kerupuk tersebut. Hal itu bahkan dipelajari dari pabrik pembuat kerupuk tempat dia bekerja dulu.

    Dalam prosesnya dirinya memakai tepung tapioca, terigu dan tak lupa menambahkan tawas dan bleng. Itu agar kerupuk dalam 2-3 hari tidak tengik dan untuk kerupuk lipat agar bagus warnanya. Dalam sehari dirinya membuat hingga 50 kg tepung bahan kerupuk yang disebar ke warung-warung hingga ke luar kota. Dalam satu toples besar berisi 40-50 kerupuk yang dijual Rp 400,- per buah. Bahkan di pabrik besar tempatnya bekerja dulu hingga memproduksi 1-2 kwintal bahan kerupuk tiap hari. Bahkan pemasarannya semakin luas dari mulai armada sepeda, motor, gerobak ke segala penjuru hingga ke perumahan dan restoran.

    Hasil penelusuran lainnya yaitu dari 10 sampel kerupuk aci yang dimabil di tempat berbeda, dari warung hingga supermarket ditemukan bahwa dari 10 sampel kerupuk 5 diantaranya terdeteksi mengandung bahan berbahaya termasuk kerupuk buatan bocil dan pabrik tempat dia bekerja dulu. Serta dari uji bulu domba terdeteksi adanya zat pewarna makanan tekstil.

    Berikut tips membedakan kerupuk aci yang sehat dan tidak

Kerupuk Baik/sehat
Kerupuk tidak baik
·         Warna kerupuk tidak terlalu putih
·         Warna lebih putih (itu dikarenakan tawas yang digunakan)
·         Apabila diremuk langsung remuk garing
·         Apabila diremuk akan sedikit melawan
·         Kerupuk yang dimakan tidak menyakiti kerongkongan
·         Kerupuk yang dimakan akan menyakiti kerongkongan




    Adapun tips cara menikmati kerupuk yaitu adalah hindari makan kerupuk hanya sebagai snack, jadi yang baik adalah sebagai pendamping makanan yang lain

    Namun, tetap ada produsen kerupuk yang jujur. Dalam wawancaranya dengan tim trans investigasi, dirinya mengatakan bahwa sebenarnya tanpa menggunakan zat-zat itu, maka kerupuk dapat maksimal hasilnya apabila pas dalam mangaduk adonannya, sampai matang, mengukus juga sampai matang, seperti soda kue. Dengan cara itu maka oksigen akan terikat dengan tepung. Untuk penyedap rasanya bisa ditambah daun bawang.

    Biar  bagaimanapun cara yang paling aman adalah membuat kerupuk sendiri dengan kreasi masing-masing.  Tapi perlu diperhatikan pula bagi yang gemar dengan makanan yang satu ini untuk mencari kerupuk yang sehat.


Source:  Jurnal Bidan Diah & Reportase Trans TV